sains tentang stres baik atau eustress
mengapa sedikit tekanan justru membantu
Pernahkah kita berkhayal tentang hidup yang benar-benar tanpa beban? Bayangkan sebuah skenario idaman. Kita berada di sebuah pulau tropis, uang di rekening tidak berseri, tidak ada tenggat waktu, dan tidak ada bos yang cerewet. Hari-hari hanya diisi dengan makan, tidur, dan bersantai. Terdengar seperti surga, bukan?
Tapi, mari kita jujur pada diri sendiri. Berapa lama kita bisa bertahan dalam rutinitas tanpa gesekan itu sebelum akhirnya merasa mati bosan?
Satu minggu? Satu bulan? Pada titik tertentu, ketiadaan tantangan justru akan membuat kita merasa kosong. Otak kita mulai mencari-cari masalah. Kita tiba-tiba meributkan hal-sepele, atau merasa hidup ini kehilangan maknanya. Ini membawa kita pada sebuah paradoks yang sangat menarik. Selama bertahun-tahun, kita diajari bahwa stres adalah musuh utama kebahagiaan. Stres adalah monster yang membuat kita sakit, tua, dan kelelahan. Tapi, jika stres murni adalah racun, mengapa ketiadaannya justru membuat hidup kita terasa hambar?
Untuk menjawabnya, kita perlu melihat sejarah panjang bagaimana otak kita berevolusi. Ratusan ribu tahun yang lalu, sistem saraf kita mendesain sebuah alarm canggih. Namanya respons fight-or-flight (lawan atau lari). Saat nenek moyang kita melihat harimau purba bersembunyi di balik semak, otak mereka langsung memompa adrenalin dan kortisol. Jantung berdebar, napas memburu, dan fokus menjadi sangat tajam. Alarm ini sukses besar membuat spesies kita bertahan hidup.
Masalahnya, perangkat keras di kepala kita ini belum banyak berubah, sementara dunia di sekitar kita berubah drastis. Harimau purba itu kini berubah wujud menjadi tumpukan email yang belum dibalas, kemacetan lalu lintas, atau tagihan yang membengkak. Alarm kita terus-menerus menyala. Wajar jika kita merasa kelelahan dan akhirnya memusuhi kata "stres".
Namun, pada awal abad ke-20, dua psikolog bernama Robert Yerkes dan John Dillingham Dodson menemukan sesuatu yang aneh. Mereka melakukan eksperimen pada tikus dan menemukan sebuah pola berupa kurva berbentuk lonceng. Jika tikus tidak diberi tekanan sama sekali, kinerjanya payah. Mereka malas beraktivitas. Tapi ketika diberi sedikit tekanan—berupa kejutan listrik ringan—kinerja mereka mendadak melesat tajam. Mereka belajar lebih cepat dan lebih waspada. Tentu saja, jika kejutannya terlalu besar, mereka panik dan kinerjanya hancur.
Ada sebuah titik manis di tengah-tengah kurva itu. Sebuah titik di mana tekanan tidak menghancurkan, melainkan justru mengaktifkan potensi terbaik.
Temuan ini sebenarnya membuka kotak pandora dalam dunia psikologi. Mari kita berkenalan dengan Hans Selye, seorang endokrinolog asal Hungaria yang pada tahun 1930-an mencetuskan istilah "stres" itu sendiri. Awalnya, Selye melihat stres murni sebagai respons biologis yang merusak. Ia meneliti bagaimana tekanan fisik yang berat membuat tubuh hewan percobaan menjadi sakit.
Namun, di akhir kariernya, Selye menyadari ada sebuah anomali besar yang ia lewatkan.
Ia melihat orang-orang di sekitarnya. Ada eksekutif yang bekerja 80 jam seminggu tapi terlihat sangat energik dan bahagia. Ada seniman yang tidak tidur berhari-hari demi menyelesaikan mahakaryanya, tapi tidak jatuh sakit. Ada atlet yang menempatkan tubuhnya pada siksaan luar biasa, tapi justru merasa lebih hidup dari sebelumnya.
Jika stres selalu berakibat fatal, mengapa orang-orang ini justru terlihat bersinar saat berada di bawah tekanan yang masif? Apakah ada bahan rahasia dalam tubuh mereka? Bagaimana jika selama ini, kita benar-benar salah memahami musuh terbesar kita?
Inilah momen di mana sains memberikan pencerahan yang mengubah paradigma. Hans Selye akhirnya membagi stres menjadi dua kubu. Yang pertama adalah distress, yaitu stres beracun yang membuat kita merasa tidak berdaya, tertekan, dan sakit. Ini jenis stres yang kronis dan di luar kendali kita.
Lalu, ada kubu kedua yang ia sebut sebagai eustress. Berasal dari bahasa Yunani "eu" yang berarti baik, eustress adalah stres yang sehat. Stres yang memicu kita untuk tumbuh.
Secara biologis, perbedaan antara merasa hancur (distress) dan merasa tertantang (eustress) sangatlah nyata di dalam otak kita. Saat kita menghadapi tantangan yang kita yakini bisa kita atasi—misalnya, mengerjakan proyek impian, bermain game yang sulit, atau mempersiapkan kencan pertama—otak kita meracik koktail kimia yang berbeda.
Alih-alih hanya dibanjiri kortisol yang merusak, otak kita mencampurkan adrenalin dengan dopamine (hormon motivasi dan penghargaan). Lebih menakjubkannya lagi, tubuh memproduksi hormon bernama DHEA (Dehydroepiandrosterone). DHEA ini bertindak sebagai perisai saraf. Ia membantu otak menumbuhkan koneksi baru secara harfiah. Proses ini disebut neuroplastisitas.
Jadi, tekanan yang terukur sebenarnya memaksa otak kita untuk memutar ulang jaringannya, membuat kita lebih tangguh, lebih pintar, dan lebih adaptif. Dalam biologi, fenomena ini disebut hormesis: apa yang tidak membunuhmu, jika diberikan dalam dosis yang tepat, secara molekuler akan membuatmu lebih kuat. Tenggat waktu yang wajar tidak menyiksamu; ia memberimu kekuatan manusia super sesaat untuk menyelesaikan sesuatu yang luar biasa.
Tentu saja, saya tidak sedang meromantisasi kelelahan mental yang kronis. Jika teman-teman saat ini merasa burnout, merasa tenggelam dalam ekspektasi yang tidak masuk akal, itu adalah distress. Tubuh kita berhak untuk beristirahat dan meminta pertolongan. Empati pada diri sendiri adalah hal yang mutlak.
Namun, mari kita ubah cara kita memandang sedikit rasa grogi, jantung yang berdebar sebelum presentasi, atau rasa tegang saat mencoba hal baru. Itu bukanlah tanda bahwa kita sedang terancam. Itu adalah tanda bahwa tubuh kita sedang memanaskan mesin. Itu adalah biologi kita yang berkata, "Hei, ini hal yang penting bagi kita, ayo kita bersiap."
Hidup yang bermakna ternyata tidak pernah ditemukan di atas kasur yang terlalu empuk tanpa beban. Ia ditemukan di titik manis kurva tadi. Sesekali, kita memang butuh ombak yang cukup besar agar kita punya alasan untuk belajar berselancar. Jadi, saat tekanan kecil itu datang esok hari, sapalah ia. Ia bukan musuh; ia mungkin pelatih pribadi terbaik yang dikirimkan oleh biologi tubuh kita.